Merubah Photo Menjadi Lukisan

Bosen sama lukisan kamu dirumah? ayo kita bikin lukisan sendiri!

Memberi Efek Komik Pada Foto

Kamu enggak bisa masuk komik? bisa aja tuh!

Membuat Brush Wajah Sendiri

Ayo bermain-main di Photoshop dengan brush wajahmu sendiri!

Scatered Face Tutorial

Ngerasa muka kamu ancur? kamu bisa bikin lebih ancur lagi :p

Iseng-iseng Out Of Bound

Ada orang keluar dari photo? kamu juga bisa kok!

SIde

Kumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi Maya

twitter

Ged a Widget
Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

25 July, 2012

Pengalaman Operator Warnet



G: gw

P: pelanggan
P: bang, maen stengah jam,G: iya30 mnit berselang, biling udah stop, udah siap bayarP: bang, ngeprint donkG: (dalam ati dongkol) knapa g daritadi sih…==’(unlock billing)g: yg ni?(nunjuk ms word yg diminimize)p: iya bang,eh, tapi waktunya udah abis bang, gimana donk?(g tau daritadi gw udah dongkol am dya gara2 itu…)g: tar, disave dulu yahp: iya bang….(lagi ngesave data…)P: TAR DULU BANG…(triak kaya g ada orang)G: (nahan kesel), knapa deg?P: dirubah dulu judulnyaG: (dalem ati: lah trus lu ngedit2 daritadi emank g inget judul ==’)P: judulnya wisata….G: wisata..trus?P: wisata…alam…..G: (trus ngetik) iya trus..P: eh ganti deh bang, danau alam sari..G: (hh…ngerti perasaan gw) iy udah. Bang save yah..(langsung print, gw sebel g bilang berapa, tunjukin billing, dia bayar trus ngeloyor~)------------------------------------------------------------------------------------------------------------Anak cewe, udah sering maen disini bareng temen2nyap: (turun dari tangga__warnet gw dua lantai), bang ngeprint donk…g: (ngasih flashdisk ama dia) nih deg, di save aja dulu….P: (ngambil flash), iya bang…*5 menitP: bang, ngeprint donk?G: bawa aja flashnya kemari..(dia langsung ngeloyor naik lagi---gw samperin)G: knapa deg?P: save-in donk bang…G: (lari keteras trus nepuk jidat)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: bang, ngeprint donkGw samperin kemejanya, g kliatan satupun ms office yg aktifG:Mana deg yg mau diprint?P: yg ni bg…(nunjukin web page yg panjangnya mnta ampun..)G: dalam ati: buset….minta print apa minta dibikinin…==’*10 menitg: nih udah, langsung print ga? Kalo item smua harganya 500, kalo ada warna jadi 1000, kalo pake foto 2000 (gw jelasin bae2 sebagai OP yg berkualitas)P: um..(mikir..) y udah g usah pake fotoG: grrrr…..(ngedit2 lagi 30 mnit karena 18 lembar hampir smuanya isinya foto)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: (dateng didepan pintu—anak es de), bang, sejam berapa?G: 3500 deg..P: hmm.. tar aku liat duit aku dulu..maen 3 ribu aja deh bang..berapa menit bang?G: hmm…40, deg…(si adeg langsng ngambil tempat+ngidupin kompi)P: 50 mnit aj deh bg….G: dalem ati: inget ama emak pas lagi nawar2 dipasar….(akhirnya gw kasih 45 menit, kasian adeg2)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: (adeg2 cowo gndut + imut), bang..maen sejam yah…(sambil ngasih 3,5)G: diatas aja yah deg, dibawah rame..P: iya bang (sambil senyum2 penuh arti)gw monitor deh, bingung anak SD kecil2 ke warnet5 mnit pertama____facebook7 menit____google25 menit____35 menit____60 menit____mulai menit 25 ampe abis…: MEGAP*RN!!!P: makasih y bang, duitnya udah kan..?(sambil ngelenggang pergi)G: ckckcck…(sambil gleng2 kepala mikirin gedenya jadi apa tuh bocah..)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: bang, bisa ngeprint kan?G: iy bisa, bwa flashdisknya?P: nih bang…G: (sambil nyolok FD) file 2003 kan deg? Dsini g bisa buka yg 2007P: iya bang 2003 kok, itu tuh , yg judulnya tugas PKN*3 menit ngeprintP: ada lagi bg, tuh yg 2007…(santai bgt, dibilangin daritadi g bisa 2007)Setelah gw jelasin sesabar-sabarnya, dia pulang_______g balik2.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: bang, main sejamG: yoi*5 menit terakhirP: bang, tolong donkWarnet lagi sepi, jadi masih bisa bantuinG: napa deg?P: ni bang, coba cariin materi yg ni donk…********(mengenai sejarah danau)G: deg, kalo yg kaya ginian mah g ada, dicari disitus resmi pemerintah juga g bakal ketemu, soalnya ceritanya masih diraguin n orang yg tau Cuma sedikitP: trus gimana(mulai nyolot)G: y gimana??(gw bingung)P: gimana donk, nih tugas bang..harus dikumpul besok, (marah2 ama gw__kaya gw nyembunyiin tuh bahan)G: dalam hati: kenapa g dari kemaren2 dicari…lagian kan tugas elu, knapa maksa gw sibuk juga…ckckc..==’___akhirnya gw terusin nyariSetelah biling habisG: g bisa deg, g ketemu, dicari di arsip nasional juga g adaP: wah..trus gimana donk (nyolot lagi)G: (nyerah) g tau lah deg, mungkin emank g ada…gw turun__dia ngikut turun ke billing.P: bayar besok hari senin aja yah bang…(langsung cabut)G: BENGONG…(untung orang pada tau rumahnya dimana, jadi langsung bisa jemput duit tu malem juga)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

P: bang, maen satu jam yah, di kom nmor 1G: iya, idupin aja5 menit....P: bang, pindah donk ke kom 2, bisa kan bang?G: dalam ati(buset...bukand dari tadi)setelah pindahP: bang, buka google gimana?g: T.T dalam hati bingung daritadi ngapain aja pas di kom 1billing mau abisP: bang, bisa ngeprint bang?G: bisa, tunggu bentar..setelah sampai dikom diaP: nih bang..(sambil nunjukin web page)G: lha katanya mau diprint, ini kan masih halaman internetnya?block aja kalimatnya, tar masukin ms.WordP: abang aja dehG: dalam hati ___@*$@*&(@)(#@)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------P: (dateng bawa kertas banyak banget), bang bisa ngeprint?G: bisa, mana yg mau diprint?P: nih bang (ngeluarin kertas 3 lembar)G: dalam hati (mw nge-print apa nge-tik sih..==')


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------sebelomnya gw jelasin, di semua desktop kom warnet gw semua ada file berisi uu ITE yg ngelarang buka situs porno, di taro di desktop maksudnya biar gampang dibuka,judulnya "UU ITE", lanjut...P: bang, maen se jamG: iyah...P: bang, tolongin donkpas nyampe disitu dia lagi buka word udah ada isinya, dalem hati ngerasa niih anak rajin n ahli kompi soalnya tulisannya rapi banget.G: tolong apaan?P: caranya ngapus tulisan ni semua gimana bang?G:(sambil ngeblock semua trus ngapusin dalam hati mulai ragu nih anak pinter make kompi)P: makasih y bang..25 menitP : bang, bisa ngeprint g bang?G; iya bentarudah gw save filenya dia, tapi g liat judulnya karena buru2, sampe di kompi OP bka file yg tadiG:(dalam hati) buset... file UU ITE dibuka trus diapusin isinya (jadi ini yg gw apusin tadi?) digantiin ama pidato g berbobot selembar doank....


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

05 August, 2011

pengalaman : SMP-SMA, in Memoriam...

        


  Well, gue bingung harus mulai dari mana. Gue bahkan enggak tau mau cerita apa. Tapi setidaknya sebagai langkah awal, marilah dengarkan curhatan gue terlebih dahulu. Percaya enggak percaya, gue yg dulu ama yg sekarang rasanya beda jauh. Kalo anak-anak bilang seperti bercermin di air keruh, kalo gue bilang seperti bercermin ke etalase distro, muka gue enggak keliatan yg keliatan malah muka ganteng model-model pakean dalem cowo(bukan artinya gue homo, camkan itu!). maksud gue enggak laen dan enggak bukan, yah rasanya beda jauh gue yang masih kecil ama gue sekarang yg udah kuliah. 6 tahun lalu gue masih duduk di kursi kayu lapuk, warna coklat tua bersanding dengan meja yg kondisinya enggak jauh memprihatinkan dari si kursi, dilengkapi dengan laci penuh sampah dan kopekan plus asesoris tambahan berupa gumpalan-gumpalan ampas permen karet anak-anak dibawah meja. Kerjaan gue dari pagi ampe sore setiap jam kerja Cuma dateng dan pulang dari sekolah. Bikin catetan dan kerjain latihan sambil meres otak dan harga diri. Belom cukup sampe disitu, juga masih harus ngerjain PR yang terlalu menyiksa jiwa serta raga yang bagaikan burung yang terkurung dan ingin bebas dari celana dalem pak guru. Kalo elu bilang gue anak rajin, maaf bung, lu salah. Kita-kita waktu itu disekolah cuma ngelakuin apa yang disuruh ama pak guru, mengabulkan semua permintaan kepala sekolah atas nama harga diri sekolah, dan ngelayanin rate nilai yang dipatok sama pemerintah sebagai target kelulusan, suka enggak suka gue bilang gue dulu serasa gigolo-nya pendidikan. Terlepas dari semua itu, mungkin sebagian orang menganggap dunia sekolah itu nyenengin, ketemu temen-temen dan seneng-seneng pulang dari sekolah. Lu pikir gue kaya gitu, lu salah lagi. Sayangnya gue yang dulu susah banget cari “temen nyontek”, knapa temen nyontek, karena dulu temen buat gue Cuma sebatas bisa nyontek, biar nilai enggak hancur. Gue bahkan mulai mikir kayanya prinsip gue yg sesat itu yg bikin gue jarang dapet temen. Mungkin bukan karena mereka sebel Cuma jadi tempat nyontek gue, tapi mungkin karena mereka juga nyari temen buat dicontek, dan nganggep gue enggak ada gunanya karena gue juga otak dangkal, mungkin…

          Jangan berharap dulu gue di SMP kenal ama yg namanya hura-hura, gue bahkan enggak kenal ama kata hura-hura. Hari-hari gue Cuma dapet jajan buat makan dan ongkos pulang doang, selebihnya ya harus pinter ngemis dan berbelas kasih dari temen-temen dan berkeras tampang sama junior-junior, terutama yang baru masuk. Enggak perlu susah-susah buat jadi senior yang ditakutin ama junior, cukup ikut nampang ama komplotan senior yang lagi action ngancem adek-adek, muka lu udah pasti diinget ama mereka. Dari sini gue kadang suka nyimpulin, terkadang pelajaran kaya gini yang harusnya butuh biaya gede, bukan matematika atau kimia, karena lu semua juga tau sendiri pelajaran kaya gini hasilnya langsung bisa dipraktekin, tapi jujur gue jarang banget bullying kaya gitu, nenek bilang itu berbahaya. Kembali ke hura-hura, semua duit gue Cuma gue abisin buat yang bener-bener. Gue enggak pernah mabok-mabokan, ngerokok atau apalah yang dilakuin anak sekarang. Entah karena gue kolot atau apa, gue juga enggak pernah niat ngelakuin itu semua. Jangankan buang duit buat ngerokok, duit makan gue aja kurang. Tapi semua gue jalanin dengan bibir senyum, meskipun tengorokan menelan ludah kepahitan.

          Gue baru kenal pacaran mulai kelas 3 SMP, ama cewe. Item manis, enggak tinggi banget dan enggak pendek banget, suka ketawa dan senyam senyum sendiri. Gue masih inget banget dulu gue jadian dijodohin ama sepupu gue yang dodolnya ampe sekarang lebih susah nyari cewe dibandingin gue. Tinggalnya enggak jauh-jauh, masih deket rumah gue juga. Sering lewat depan rumah dia, ngintip-ngintipin kalo-kalo dia lagi maen didepan rumahnya sore-sore. Dan yang paling gue enggak percaya_bahkan ampe sekarang, dikelas 3 SMP gue masih pake surat buat ngobrol-ngobrol ama dia sedangkan dimeja belajar gue tergeletak tak sadarkan diri HP bekas dari kakak gue(what the hel!). mungkin karena emang gue enggak tau cara operating dari HP, maklum lah otak-otak anak SMP, masih bersih belom terlalu kenal bokep. Dan yang bikin gue tambah kaget lagi, style gue pacaran pas SMA udah berubah total sama sekali! Di SMA gue sempet punya pacar baru, pasti dong, dan harus. Masa pacar Cuma satu? Kata temen gue yang boleh satu Cuma isteri, selama belom nikah masih boleh pacarin berapapun cewe, agak jahat sih kedengerannya, tapi katanya sih itu resep udah lama beredar dan menjadi panutan pria-pria dewasa. Masih di gelombang yang sama, gue ama doi tuh lumayan lama, yah bisa dibilang hampir setahun lah, bahkan ada yang sampe satu setengah tahun lebih. Meskipun banyak nelen pahit dan asem, semua hubungan buat gue selalu ada kenangan dan untungnya kenangan gue jarang yg kehapus, paling Cuma lupa 83%.  

          Berangkat dari pacar dan cinta, disisi laen pas SMA gue mulai kenal ama yang namanya temen. Buat gue waktu itu temen bukan lagi Cuma sarana dongkrak nilai dan nama, tapi juga tempat buat happy dan ngekspresiin perasaan gue. Pertama kali gue denger dari temen gue istilah “CURHAT”. Meskipun hampir sebulan gue ngedenger mereka ngebahas hal itu gue baru ngeh ama arti dari kata curhat itu sendiri sekitar sebulan lebih(ya ampun, gue berasa bego banget). Tua-tua belati, semakin tua makin dihati, kayanya peribahacot itu yang cocok buat gue. Setelah melalui tahun pertama di SMA ditambah pembagian jurusan yang mewajibkan gue ketemu ama temen yang sama tiap hari bikin gue ngerasa lebih deket ama anak-anak dikelas dan seangkatan. Gue bangga bisa nyapa semua orang yg gue temuin tiap pagi walaupun mereka memandang sinis karena enggak kenal ama gue, tapi itu kebahagiaan tersendiri buat gue, hahaha. Tapi kayanya usaha gue itu enggak sia-sia, apalagi setelah gue sempet ikut ekskul yang banyak nyumbangin piala buat sekolah ditambah gue sebagai salah satu penyumbang, anak-anak makin kenal dan akrab sama gue. Dari situ gue nyimpulin kalo sebenernya eksis bukan cara buat dikenal, tapi eksis Cuma salah satu sarana buat eksis itu sendiri, bingung? Sama.

          Maen basket pulang sekolah jadi hal yang biasa buat gue dimana gue enggak pernah ngelakuin itu di SMP. Makin gue berlatih, makin mateng tembakan gue, makin banyak temen gue, makin gampang buat cari cewe baru. Semua gue lakuin dengan hati tulus ikhlas tanpa pamrih dimana akhirnya semua menjadi terbalik ketika gue enggak pernah masuk tim inti basket sekolah. Sedih sih, kadang pengen nangis-nangis sendiri, tapi akhirnya gue bisa nerima setelah gue pikir-pikir kalo ternyata emang gue enggak bisa maen basket, tolol. Cukup dengan skill olahraga seadanya, gue kembali nyelemin jati diri gue sebagai calon remaja masa kini. Perlajaran yang nambah berat semakin mempererat hubungan pertemanan gue ama anak-anak satu kelas, apalagi pas musim ujian. Dengan semangat kelulusan yang tinggi dan rasa sportifitas yang rendah, semua anak-anak berjuang ngedapetin rangking satu dengan segala altrenatif yang mungkin dan keliatan. Kadang rengking tinggi sendiri bikin keki. Ada perasaan bingung kalo lu dapet nilai tinggi. Dari diri lu yang lonely tiba-tiba dideketin ama anak-anak, diajak makan bareng dan ngumpul-ngumpul. Seneng? awalnya. Lu baru berguna setelah dateng musim ujian, anak-anak bakal maksa lu dan sedikit mengancam biar lu mau ngebantuin mereka pas ujian. Belom selesai sampai disitu, elu masih harus ngebantuin latihan plus PR mereka yang selalu dikerjakan pagi hari sebelum bel skolah masuk, tujuannya biar lu bisa bantuin. Gue rasa masuk akal kenapa nilai anak-anak kelas gue pada rendah semua, mungkin bukannya bego ato sepakat janjian nilai ancur bareng-bareng, tapi mungkin emang karena tekanan batin dari temen-temen yang didapet kalo nilai tinggi lebih parah dari tekanan guru matematika yang marah gara-gara kita enggak bikin PR.

          Sepatah dua patah kata, gue ngerasain banyak hal yang beda di dunia SMA. Dari gue yang dulu dianter jemput setiap hari ama bokap ato kakak, sekarang malah udah enggak ada yang mau nganterin. Enak sih dilepasin pulang pergi naek angkot atau bus. Lu bisa tau daerah-daerah yang lu enggak tau sebelomnya. Lu bisa merhatiin iklan-iklan dan spanduk enggak penting yang saling perang produk ampe sekarang, bisa ngetawain kenek bus yang ditinggalin ama sopirnya, bisa ngerasain minuman pinggir jalan yang kadang bikin mencret sampe dirumah, dan yang paling penting bisa kenalan ama cewe-cewe cakep dari beragam jenis, tipe dan merek. Tapi semua kesenengan dan keindahan punya konsekuensi yang lumayan besar. Selain factor utama yaitu cepet kehabisan duit buat ongkos kalo lagi jalan, kadang suka disasarin ama preman dan palakers liar(yaeyalah, orang malak mana ada yang kedaftar!). belom lagi resiko kecelakaan yang gede disaat sopir bus atau angkot yang kebut-kebutan ngejar ibu-ibu bau dari pasar, tambah pula resiko kehilangan barang berharga. Gue pernah ngalamin kasus kaya kehilangan gitu. lebih dua tahun gue punya tuh barang, nemenin gue tidur ampe bangun lagi, ampe tidur lagi, dan bangun lagi, tidur lagi. Setiap gue mandi, gue jalan, makan, ampe boker juga gue bawa-bawa kesana kemari, jam tangan, pertama yg bener-bener jam tangan, bukan jam tangan bergambar ultraman, hello kitty atau sebagainya, benar-benar jam tangan, jam tangan seorang pria, dan berdasarkan resiko yang gue tulis diatas coba tebak dimana gue ngilangin jam itu_Ya, jam gue ilang dikamar mandi!

          Semenjak SMA gue semakin ngerti ama pelajaran. Maaf, maksudnya gue semakin ngerti gimana caranya biar ngerti ama pelajaran, atau sama artinya sama gue makin ngerti cara biar gue makin ngerti ama pelajaran_pilih aja salah satu. Terbatas sampai disitu, nilai teori gue enggak pernah tinggi, paling sukur memuaskan, karena memang gue bukan orang yg suka berteori. Gue lebih suka enggak berteori, bahkan kalo bisa menciptakan teori baru yang tentunya enggak ada teori yang perlu dihapal dan enggak nyusahin generasi penerus gue menjelang ujian. Dan sayangnya untuk bikin teori mesti belajar tinggi-tinggi, sedangkan sekolah gue Cuma 3 lantai. Jadilah harus menelan bulat-bulat impian gue yang bahkan temen-temen gue ragu gue bisa dapet mimpi itu dari mana. Debat, diskusi dan sejenisnya menjadi acara favorit gue sepanjang gue belajar di SMA. Kemampuan gue memutarbalikkan fakta terbukti dari jarangnya orang yang menang debat dari gue. Enggak jarang banyak temen gue yang nempel ama gue pas ada presentasi dan sejenisnya dikelas. Gue sih enggak apa-apa, asal jangan kalo nilai rendah jadi gue yang kena aja. Mungkin selain WC dan kantin, lab kompi(computer,red) adalah tempat yang paling gue suka disekolah. Kesempatan mencari “kedewasaan” di internet enggak gue sia-siain, sayangnya anak SMA ditakdirkan tidak lebih pintar dari gurunya. Keputusan ngeblok situs-situs “surgawi” dari sekolah juga ngeblok harapan-harapan remaja sange disekolah. Tapi selain itu, gue juga bisa puas-puasan maen games yang kadang suka dipasang ama anak-anak. Yah, mungkin ruangannya yang ber-AC juga bikin gue betah lama-lama disitu, sampai akhirnya bel masuk kelas memisahkan kita.

          Tapi hal apapun yang terjadi di SMA, tetep aja kehilangan sandal adalah hal yang paling sering gue temuin bahkan ampe sekarang. Mulai dari lelucon-lelucon jahil temen gue nyembunyiin sendal ampe ilang beneran, semua pernah gue alamin. Bisa dibilang kaki gue udah ribuan kali napak aspal tanpa ales. enggak apa-apa, toh masih banyak sandal orang-orang enggak berdosa yang bisa gue incer, gitulah hukum penumpang kereta, ilang pantat ilang tempat. Tapi gimanapun, gue tetep bangga pernah sekolah di SMA. Puluhan murid yang berbeda jiwa, raga dan kelamin berkumpul dan menyatukan aspirasi diatas egoisme. Berpikir melakukan sesuatu  bukan lagi hanya untuk dirinya, tapi juga semua orang dan obyek yang ada dan kongkret disekitarnya. Mematahkan teori egosentris dimana manusia hanya diciptain atas dasar perasaan untuk memuaskan diri sendiri, juga memutuskan teori Darwin yang menyatakan manusia dari monyet sebagai teori yang sah setelah melihat contoh anak-anak Bengal yang memperebutkan sebatang coklat yang udah 3 hari kebuka, sungguh tidak manusiawi.
persiapan 17 agustusan sma gw, what a memories :)

          Ribuan detik udah gue lewatin selama masa-masa SMA. Beragam air mata udah gue saksikan jatuh dari mata siswa dan siswi, mulai dari kehilangan cincin KW 2000-an ampe kehilangan keluarga dan sanak sodara, jadi cerita sendiri buat gue. Setiap pojok tergelap, teras terterang, sampai semak tertinggi punya nilai kenangan sendiri buat gue setiap kali gue dateng kesekolah. Guru-guru yang bae dan bijak, bikin gue kangen kembali ke masa-masa sekolah. Tembok-tembok penuh graffiti, meja-meja penuh rumus-rumus tangguh, langit-langit tertempel ampas permen karet, meja guru yang taplaknya udah ilang enggak tau kemana, membangun lagi cerita-cerita tentang kaos bau keringet abis olahraga, kisah cinta temen-temen SMA dan handphone yang nagkring diatas kipas pas lagi razia. Indah memang, tapi kembali lagi, sesuatu yang indah dan nyenengin punya konsekuensi, disini kita cerita tentang “kenangan” dalam artian memang bener-bener kenangan, harus ditinggalkan dan enggak bisa dirasain persis sama walau dengan orang-orang dan kondisi yang nyaris sempurna.

          Bagi gue, keindahan masa SMA itu terletak pas udah kelas tiga, masa-masa penghujung perjuangan, akhir dari masa SMA itu sendiri. Ketika guru-guru yang memperlakukan siswa dan siswinya secara semena-mena sepakat untuk bersama-sama menambah kadar semena-menanya, dengan dalih lulus ujian akhir sekolah. Kondisi gw mungkin sedikit beda ama lu, karena gw dari kelas dua SMA ampe kelas 3 dapet temen sekelas yang sama rupa dan wajahnya, kerapatan barisan dan kursi duduk bikin gw dan temen-temen gw makin nyatu dan akrab, kaya anjing dan kucing. Semua orang udah saling kenal ama dirinya dan temen-temennya. Udah tau kebiasaan yang g wajar, penyimpangan perilaku, dan kejanggalan-kejanggalan lain di diri temen-temennya dari ujung kepala ampe ujung jidat. Tembok yang memisahkan bahkan g bisa menghalangi indera penciuman kita buat nebak ini parfum siapa. Semua selaras, punya pikiran yang sama, g ada yang berjalan diluar koridor terutama dilantai dua dan tiga. Guru dan siswa udah saling kenal, yang siswa curhatin pacar dan sebaliknya yang pacar curhatin guru. Waktu yang hampir seharian dihabiskan disekolah menghasilkan ikatan batin yang susah buat diputusin, bahkan dengan sulutan api rokok sekalipun. Perjuangan yang sama-sama dirasakan, sama-sama jarang ngerjain latihan, sama-sama jarang ngerjain PR, sama-sama jarang masuk kelas, sama-sama cabut ke tempat yang sama, dan sama-sama ngelakuin hal yang sama, bikin muka kita sama buruknya didepan kepala sekolah. Jarak juga bukan masalah kalo sobat udah jadi sobat untuk sobatnya. Dan mungkin karena rasa persaudaraan yang kuat diantara kita sekelas, g ada yang pernah pacaran satu kelas, semua udah sama-sama dianggap sodara.

          Jalan-jalan akhir sekolah juga bikin kenangan sendiri di SMA. Memori-memori tentang temen-temen yang pada sibuk pengen jalan-jalan ke luar kota kadang asik buat dikenang lagi, tentunya dengan temen-temen yang sama. Banyak yang udah kita ciptain selama SMA. Eksperimen-eksperimen g jelas yang menghasilkan sebuah karya(tanpa sengaja) juga membuktikan bahwa masa kreatifitas kita sudah matang sejak SMA. Kadang banyak juga guru-guru gw yang masih kangen sama anka-anak muridnya, mungkin karena ikatan yang gw bilang tadi, terlalu kuat dan g bisa putus, kaya tali kolornya Superman. Namun hal yang jelas terlihat dari kepribadian gw mungkin adalah perubahan yang lumayan signifikan. Namanya semakin gede, artinya juga semakin banyak penambahan dan pengurangan, termasuk pengurangan kapasitas otak, makanya sulit buat bikin prediksi anak SMA gedenya jadi pinter apa goblok. Enggak Cuma itu, kelakuan dan sifat juga banyak yg berubah. Kalo pas masih SMP kedewasaan dibuktikan dengan adanya anak-anak Bengal yang berani ngisep sebatang rokok dilingkungan sekolah, di SMA kedewasaan ditunjukkan dengan ngisep se-slop rokok diwaktu istirahat. Motor-motor dan mobil udah jadi standar buat nentuin lu cowo yang keren apa enggak, beda cerita ama pas SMP, kehebatan seseorang ditentuin dengan seberapa hebat kita bisa ngejilat guru buat ngedapetin nilai yang tinggi. Penampilan bisa berubah, ada yang nambah rapi dan ada yang nambah gila. Rambut lurus yang dibanggain nyokap lu dulu bisa aja berubah jadi botak, badan ideal yang bikin senior-senior lu jatuh cinta bisa aja jadi menciut, atau malah ngembang berkali-kali lipat dari ukuran aslinya. Jenggot-jenggot yang dulu alus-alus dan imut sekarang berubah jadi semak-semak yang bikin nangis bocah-bocah. Semua perubahan itu terjadi sebagai hasil asimilasi kebiasaan, juga mutilasi harga diri. Kadang g sedikit junior-junior gw yang ngeluh karena mereka kurang popular diantara temen-temennya, apalagi mereka yang kalah popular Cuma karena g punya tunggangan yang bisa dibawa kesekolah. Yah gw sih g bisa ngomong banyak, persaingan g adil kaya gitu udah jadi realita anak-anak jaman sekarang. Dan gw juga g bisa nyalahin anak-anaknya, selain karena mereka Cuma niru apa yang dilakuin ama senior, mungkin juga mereka jadi korban sinetron yang memang selalu menampilkan kesan bahwa anak SMA adalah anak yang kaya dan gaul. Mungkin pengaruh buruk kaya gini bisa disamain sama kasus dijaman gw, dimana anak-anak pada bangga kalo punya file bokep, walaupun Cuma seiprit dan berdurasi g lebih dari satu menit. Dengan bokep-bokep itu, mereka g suka kalo dibilang otak mesum, tapi lebih bangga kalo disebut “mirip ama senior”, terkadang senior emang g semuanya bae.

          Dikelas tiga temen-temen gue juga nambah, dan hampir satu angkatan kita udah saling kenal. Yang dulunya jurusan gw Cuma rumah-sekolah-rumah, sekarang udah nambah banyak. Pulang sekolah, kalo kebetulan dapet jadwal pagi gw biasanya duduk-duduk tenang dipelataran jalan. Es rumput laut jadi makanan wajib gw tiap minggu buat dinikmatin rame-rame sama temen. Gw makin banyak kenal ama anak-anak luar sekolah, juga dengan wirausahawan seperti tukang es lilin, tukang jual jam dan kenek angkot dan bus. Kesulitan dalam komunikasi? Gw g kenal lagi ama masalah itu, semua udah jadi temen. Jalan-jalan akhir minggu, nonton film dibioskop murahan, kelilingin mall ampe kaki lemes, semua g bisa dengan mudah dilupain. Dan sayangnya kebahagiaan kaya gitu jadi senjata makan tuan setelah perpisahan sekolah. Rasa nyesel g berbuat lebih banyak dan sedih harus ninggalin itu semua berdampak buruk bagi kesehatan lulusan SMA. Down, stress g punya temen, impotensi, gangguan kehamilan dan janin, jadi saksi kesedihan siswa-siswi malang yang harus nerima fakta bahwa masa SMA mereka udah berakhir bersamaan dengan wisuda, kesedihan makin menjadi setelah tahu bahwa pembayaran belum berakhir. Kampus-kampus yang sudah jadi target semenjak SMA sekarang mulai kerepotan menerima calon mahasiswa-mahasiswa putus asa pencari kerja.

-To Be Continued??
           

Abang Cimol

“CIMOL”

“Hiduplah seperti burung, yang dengan kedua sayapnya hidup bebas dan tanpa penghalang, tapi bekerjalah seperti kuda tunggangan, yang dengan pinggiran mata tertutup ia hanya melihat dan berjalan lurus kedepan”

            Teman, mungkin ini hanya menjadi segelintir ceritaku. Kau dan aku sudah hidup untuk hampir seperempat abad lamanya, tapi tampaknya cerita kita tak jauh berbeda. Teman, untuk kau renungkan, tuhan memang sangat berkuasa. Ia bisa melakukan segalanya ketika ia tahu waktu dan kesempatan yang tepat. Ia maha sempurna, jangan kau bandingkan ia dengan air terjun Niagara, atau keindahan Pulau Dewata, sesungguhnya didalam genggamannya semua kehidupan bertekuk lutut.
            Waktu itu siang menjelang sore, lewat pukul tiga. Setelah perjuangan panjang aku dan teman-temanku menempuh jalan naik kaki menuju kolam renang terdekat, hanya sia-sia setelah akhirnya kami tidak diperbolehkan masuk kolam hanya karena tidak ada yang punya pakaian untuk renang. Letih memang, lelah capai dan kesal. Tapi memang kau tidak bisa mengukir diudara, sepandai apapun kau bicara, kalau memang tidak rejeki apa mau dikata, kami tetap tidak diperbolehkan berenang.
            Beberapa jam aku dan teman-teman baruku menghabiskan waktu hanya untuk istirahat di kolam sial itu sekali meredakan emosi. Kakiku dan mereka bertumpu pada pinggul yg duduk serta badan condong kebelakang bertopang tangan, semua seperti sudah menerima dan ikhlas dengan semua kesia-siaan, kami lalui satu perjalanan lagi, pulang. Namun cerita baru dimulai.
            Setengah jalan menuju tempat tidurku teman-temanku meminta berhenti. Agak kesal memang ketika tahu mereka berhenti untuk makan, karena aku hanya satu-satunya orang yang berpuasa diantara mereka waktu itu, tapi ya sudahlah, hanya sebentar. Sekaligus menantang fisikku kataku. Ketika semua orang terlena dengan Baso hangat yg mengepul didepan mereka aku beranjak beberapa meter untuk menemani pacarku yang ingin membeli makanan lain_Cimol.
            Jujur aku tidak terlalu paham dengan makanan yang satu ini. Mendengar namanya saja aku baru. Bulatan-bulatan sagu yg renyah dan kenyal setelah digoreng itu dicampur dengan bubuk dengan rasa manis atau pedas. Aku hanya menelan ludah melihatnya, berharap suatu hari nanti aku bisa ikut mencicipi.
http://tamanjajanmini.jw.lt/images/cimol.jpg

            Aku suka pada penampilannya, rapih, dengan perawakan gemuk tapi tidak gendut. Diantara belasan gerobak makanan yang ada pada saat itu hanya dialah yang aku lihat menggunakan kemeja. Ya, penjual Cimol itu memang belum menyelami benar gaya penjual kaki lima yang biasanya hanya bermodal kaos dan celana jeans. Terbukti dengan pengakuannya yang belum sebulan bekerja menjadi seller di tempat itu. Senyumnya menandakan bahwa ia orang yang mengerti tata krama dan etika, berpendidikan dan tidak brutal. Belahan kanan rambutnya tampak mengilap, mungkin minyak rambut. Dengan gerobak baru yang masih bersih, tidak tampak olehku keinginannya menjadi seorang yang kotor. Ia melayani pacarku dengan baik dan cekatan. Sedikit kaku memang, mungkin karena masih baru pikirku. Pesanan pacarku selesai kurang dari lima menit, setelah sedikti berbincang-bincang selama ia menyiapkan pesanan itu, aku dan pacarku kembali menuju tempat teman-temanku kekenyangan dengan baso semangkok mereka aku mendapatkan sesuatu dari perbincangan singkat dengan penjual Cimol itu, ia bukan orang asli daerah tempatku menetap dan memang terlihat jelas dari logat bicaranya yg berbeda dengan orang asli daerah sini yang lebih senang berbicara sunda daripada bahasa indo. Tapi ya sudahlah, tak ada larangan bagi siapa saja untuk menetap dimana saja kan?
            A few days later, aku dan temanku mengadakan pesta kecil-kecilan sebelum kami pulang kerumah masing-masing. Oh ya, aku lupa, aku adalah seorang mahasiswa di Universitas swasta terkenal dibilangan bekasi, dan aku baru 2 minggu berada disini ketika aku mengalami kejadian ini. Setelah merundingkan makanan yang akan dibeli, aku mengajukan diri untuk pergi membeli semua pesanan, berdua dengan pacarku aku pergi bermodal motor pinjaman.
            Malam itu ramai. Motor dan mobil lalu lalang, seolah ingin beradu mesin. Dengan kecepatan standard, malam itu pacarku memelukku erat sekali. Cuaca dingin menembus bajuku, alasan utamaku melaju pelankan motorku selain karena ingin lebih lama berduaan dengan pacarku. Martabak pun sudah dipesan, sembari menunggu aku melihat sekeliling kios, mencari tempat dimana kira-kira aku bisa membeli sebotol air mineral. Putus asa mendapati hanya ada kios makanan aku mengajak pacarku untuk keliling lagi mencari mini market atau apalah yang menjual barang yang kucari.
            Mataku sedang asyik mencari warung kecil sembari mengendarai motor pinjaman ketika pacarku bilang ia ingat teman-temanku juga ingin Cimol. Ya sudah, sekali jalan aku juga mencari tukang cimol. Samar dari jauh kulihat gerobak putih, baru dan bersih bertuliskan “CIMOL” memarkir ditepi jalan. Dan sebuah hal yang mengejutkan bagiku ketika mengetahui bahwa pedagang Cimol itu adalah orang yang sama dengan pedagang Cimol yang melayaniku setelah aku kembali dari kolam renang sialan itu. Mungkin ia juga mengenali wajahku seperti aku mengenalinya dari jauh. Seperti sudah tahu, ia langsung bangkit berdiri dan berlari tergopoh menuju gerbokanya. Aku yang juga sudah merasa sedikit mengenalnya langsung menepikan motor biru kesayangan temanku tak jauh dari gerobaknya. Kami bertiga saling tak percaya melihat orang yang sama, dengan lebih akrab dari kemarin pacarku mulai memesan satu persatu pesanan teman-temanku. Dan seperti anak yang belajar dengan cepat, pedagang itu melayani dengan gerakan yang jauh lebih cepat dan sigap daripada saat terakhir kami dilayaninya. Sekali lagi, sembari menyiapkan pesanan aku baru tahu siapa ia yang sebenarnya. Penampilannya yang rapih, tutur katanya yang sopan, juga kebersihan gerobaknya, akhirnya semua match dengan pengakuan yang ia saksikan malam itu. Aku tidak terlalu mendengar percakapannya dengan pacarku karena aku tidak ikut dalam pembicaraan, aku hanya duduk di motor dan mendengar samar-samar saja bahwa mereka sedang membicarakan kehidupan pedagang itu. Selesai dengan pesanan, kami pamit untuk kembali menjemput Martabak yang sudah kami pesan sebelumnya. Sekali lagi dengan ramah ia tersenyum, itu saat terakhir aku bertemu dibuat kagum oleh sikapnya.
            Dan aku jauh lebih kagum lagi kepadanya ketika pacarku akhirnya cerita tentang percakapannya dengan pedagang itu saat mengerjakan pesanan tadi. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya aku tahu dari pacarku bahwa dulunya, pedagang yang ramah itu adalah seorang “Interior Designer”. Ia bercerita bahwa dulu ia termasuk orang yang sukses. Juga sudah bekerja bertahun-tahun sebagai interior designer di ibukota Jakarta. Hingga pada akhirnya setahun yang lalu ia mengalami musibah yang aku juga tidak tahu apa, sehingga memaksanya untuk berhenti bekerja dan menyewakan rumahnya dan pindah ke daerahku sekarang. “yah, namanya roda mbak, selalu berputar. Kalo dulu saya diatas, sekarang giliran saya untuk ada dibawah” akunya pada pacarku. Selintas aku dapat merasakan bagaimana perasaannya ketika mengatakan itu pada pacarku. Karena aku juga bukan tergolong orang yang mampu. Aku beruntung bisa kuliah di universitasku sekarang dengan bantuan beasiswa yang memang diakui oleh semua orang di daerah ini bahwa universitas ini termasuk universitas elit. Dan aku masih dibuat takjub olehnya karena ia mengatakannya tanpa mengeluh dan tetap dengan senyum simetrisnya, seakan ia sudah pasrah dan menyerahkan apa saja yang akan terjadi dalam usahanya kepada tuhan, sungguh seorang pribadi yang baik batinku.
            Ia merupakan sebuah pelajaran bagiku. Bagaimana seorang yang dulunya mampu kemudian dengan mudahnya diputar tuhan kehidupannya. Ketika orang yang sudah tinggi dijatuhkan dari ketinggiannya. Aku tidak tahu apakah ia merasakan itu karena kesalahannya pada masa yang lalu, aku tidak peduli. Yang aku tahu, ia adalah sesosok orang yang bisa menerima dan mau bangkit dari semua keadaan dibalik semua kesulitan yang ia punya, meskipun seandainya memang karena kesalahannya setidaknya ia sudah belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.
            Ah ya, dan satu lagi. Akhirnya malam itu aku bisa menikmati bulatan kenyal yang disebut Cimol itu, hahaha.
            Teman, itu saja ceritaku untukmu. Semoga cerita ini juga membekas dihatimu dan dapat merubah haluan hidup kita dan menjadikan kita insane yang bersinar diantara hamba-hamba tuhan yang beriman.

-End-