Merubah Photo Menjadi Lukisan

Bosen sama lukisan kamu dirumah? ayo kita bikin lukisan sendiri!

Memberi Efek Komik Pada Foto

Kamu enggak bisa masuk komik? bisa aja tuh!

Membuat Brush Wajah Sendiri

Ayo bermain-main di Photoshop dengan brush wajahmu sendiri!

Scatered Face Tutorial

Ngerasa muka kamu ancur? kamu bisa bikin lebih ancur lagi :p

Iseng-iseng Out Of Bound

Ada orang keluar dari photo? kamu juga bisa kok!

SIde

Kumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi MayaKumpulan Informasi Maya

twitter

Ged a Widget
Showing posts with label cerita fiksi. Show all posts
Showing posts with label cerita fiksi. Show all posts

01 September, 2012

Tutorial Photoshop - Change a Picture Into a Painting

- Please give a comment after reading, you may ask or request
- You may copy-paste the content, as long as you put a direct link to my blog
- I made the tutorials after tried it first, these are my real pictures
- Enjoy and please share it to your friends ^^

hallo bros and sists!! ^^

are you bored with your old paintings?
think to have or even create a new one but you aren't a good painter?

no problem. i'll tell you how to make YOUR picture into PAINTINGS!!


gimana nih??

Interested? i'll help you to make one!! ^^



Click to see the steps
1. i took this picture from the net, but i forgot the link. thanks to the owner ^^


2. first, we have to copy the layer thrice. use (CTRL+J) thrice


3. hide the top 2 layers, by clicking the "Eye" icon besides the layers


4. chose the visible layer copy 1 (besides the background layer). choose "Filter - Artistic - Cutout"
the set would more or less be like this
Number of levels : 4
Edge simplicity : 4
Edge fidelty : 2


5. find the "Blending Options" above the layer lists, change the value to "Luminosity"


6. hide the layer, and make visible the layer after it (layer copy 2). choose "Filter - Artistic - Dry Brush"
the value would be like this:
Brush Size : 10
Brush Detail : 10
Texture : 3



8.then change the blending option value to "Screen"


9. hide the layer, and make visible the last layer. choose "Filter - Distortion - Median"
change the value to "12"


10. change the blending option to "Soft Light"






all you need is a sketch frame, and a printer. print it and you'll have a new painting in your house!
this one's my first trial and i love it the most ^^

My favorite one




thanks for reading my blog, wait for my next tutorials!! ^^

-Luthfi-

05 August, 2011

Terbanglah Kupu-Kupu Biru

Tak pelak lagi..

Kikis sudah harapan palsu, tak ada lagi tempat cakar hatiku berpijak.

Mungkin memang aku tak bisa menjadi yg terbaik, dan kau juga tidak pernah bisa menerima bahwa dalam ketidaksempurnaanku pun aku masih bisa menjadi yg baik. habis sudah ceritaku, tutup buku, kubuang pena serta botol tinta cerita jauh-jauh, kubakar setiap lembaran yg sudah lama tertulis, walaupun sempat terputus cerita, meski hari sudah kelam untuk menulis, aku tetap memaksa tangan dan mataku menulis dan memaksanya kembali melanjutkan kisah yg terputus, memaksa hingga batas habis kekuatan, akkhir dari usaha yg tak kunjung memberi hasil....kertas ku terbakar, terbakar api cemburu yg menjilat setiap sudut hatiku yg perlahan kering!

engkau datang sore ini, kembali menyinari sudut ruangan yg gelap dan pengap, memperlihatkan senyumanmu yg bisa mewarnai tembok-tembok yg lusuh dan berlumut. Namun sekejap hilang sudah, cahaymu tertutup tubuhnya, tubuh lelaki itu, tegap dan mengikutimu, seakan sengaja menutup semua kecerahan disore ini, tak pelak sudah hilanglah semua senyummu. begitu juga aku, panas dingin, merayap ke ubun-ubun, gemetar tangan dan kakiku, tak lagi bisa mataku jelas melihat ini sedih atau cemburu.
sudah, sudahi saja permainan ini. akupun lelah, semua daya dan upaya telah habis terbuang, namun kau tetap jua memperjuangkan yg bukan aku. aku sudah menunggumu, menantimu dan mengawasimu dari sudut yg tidak pernah kau tahu. menanti kalau-kalau kau mau kembali menemaniku digelapnya malam sambil menyanyikan suara katak, angin dan siulan rembulan dikala mati lampu. sedikit saja harapku, tidak banyak, namun tetap saja terbalas dengan api sakti yg dalam hitungan milidetik meluluhlantahkan semua harapan yg sudah kubangun dari cicilan keringat setiap hariku...
bayangkan, aku adalah sebuah rumah, dan kini dengan badai, topan, petir, api dan gempa bumi kau hancurkan setiap kepingan genteng dan kacaku yg pecah, tak tanggung-tanggung kau sirnakan semua menjadi pasir putih bersih. halus dan menyebar keseluruh jagad raya, mengenai mata rembulanku sampai menangis, menutupi panas matahariku hingga padam dan tak lagi bisa memanaskan jagad hati, masuk dan menyumbat jalur rotasi dan evolusi planet serta bulannya, menyelubungi seluruh bima sakti putih yg perlahan semakin putih dan perlahan kabur dan menghilang, memutuskan semua ikatan pasti yg membuat hatiku tergantung. tidak menyisakan sedikitpun lagi ruang hampa, meskipun tak berisi untukku menyampaikan suaraku, aku cinta kamu, hancurkan semua hanya dalam 1/7 detik penampakanmu berjalan bersamanya.

habis, habis sudah,
aku tak terbendung lagi, mungkin sekarang saatnya aku untuk menutup buku, memasukkan kedalam peti bertuliskan "harapan yg tak kan pernah tercapai".
suaramu, hanya memekakkan telingaku, mesra terdengar seperti sayup-sayup suara kematian bagiku, sudah..sudahi semua..

hanya ingin kau tahu bahwa sekarang, aku menulis tentangmu, tentang rasa dan harapanku yg mulai dan akan hilang. berharap semua akan menjadi gelap dan aku menemukan diriku terbaring diranjang pagi hari..tidak, itu juga tidak mungkin. maka sekaranglah saatnya aku sebutkan..

aku hanya meminta sesuatu, sesuatu yg bahkan pernah aku lakukan kepadamu sebelumnya, 
ijinkan aku kembali mencium keningmu, membelai rambut dan menghirup habis setiap aromanya, sampai aku tersedak dan mati...sekali saja, aku ingin itu untuk terakhir kalinya, hanya untuk melepaskan rinduku dan menegaskan kepergianku yg mungkin tak akan kembali lagi.

selamat tinggal kasih, meski aku dekat, namun tetap jauh bagimu, 

hatiku melelehkan air mata, begetar rasanya disetiap alirannya, aku membungkuk, mengepal tangan menahan sakit seraya bersumpah tidak akan lagi percaya pada wanita manapun setelahmu,
namun jauh didasar hatiku, aku masih berharap....tetaplah menjadi

"kupu-kupu biru ku"

Hujan Memang Selalu Kelam

Aku seperti berbicara dengan merpati. mereka perhatikan, tapi tak menatap, mendengar tapi tak menjawab, bahkan seketika terbang tanpa memberikan apa-apa. Kepada siapa lagi mulut mesti bicara? Lelah sudah semua usaha ini, berbuih rasanya mulut ini memberitahukan semua, but what?
-oOo-
Asing rasanya, karena memang tak pernah kudengar ada manusia yg tidak menyalahkan hujan atas semua yg telah terjadi. Yg hanya mereka perhatikan adalah longsor, banjir, dan bencana-bencana lainnya yg telah hujan perbuat, tapi mereka tak pernah mau mengerti mengapa hujan melakukan semua itu. Memang aku seperti hujan, gelap, suram, penuh dengan Guntur dan kilat yg hanya membuat takut anak kecil. Selalu saja ada alasan untuk melupakan hujan, menyalahkannya atas semua yg terjadi, bahkan menuduh hujan sengaja menciptakan bencana. Sementara di atas sana, ia, sang hujan hanya bisa diam, terpaku dan menelan habis semua cercaan manusia, tanpa bisa menjelaskan apa-apa! Setiap rintik pengertian yg ia berikan hanya menjadi sebuah bumbu penyedap untuk semakin menjauhkan hujan dari perkampungan!
-oOo-
Tidak adil rasanya, karena memang tidak pernah ada manusia yg mencoba menjadi hujan. Mereka hanya belajar asal-usul hujan, tidak kah kawan kalian perhatikan, disetiap soal-soal geografi hanya ada banjir? yg disebabkan oleh hujan? lagi-lagi hujan! Atau…atau longsor misalnya? lagi lagi hujan. 
Tuhan menciptakan hujan untuk ibu pertiwi, agar ibu bisa memberi yg terbaik untuk semua makhluk hidup. Tapi mengapa bahkan sampai saat ini, hujan dijadikan pelambangan cinta berakhir?selalu menjadi rintik air mata kekasih? Tahukah engkau hujan menitikkan air mata untuk kehidupan ibu pertiwi? ia rela menghabiskan seluruh isi perutnya agar mereka manusia bisa membahagiakan ibu pertiwi? Bukankah itu sebuah perlambangan cinta sejati?

-oOo-
Memang kadang tidak adil, tapi mungkin selamanya hujan akan terus dikutuk seperti itu, dikutuk menjadi hasrat gelap, sebuah parodi seram, bahkan menjadi perumpamaan kelam. Ia harus terima dijadikan kambing hitam atas semua kesedihan cinta, padahal ia hanya ingin yg terbaik bagi sang pertiwi, karena memang hujan ada untuk pertiwi, layaknya aku untukmu….

Keep Waitin Even You Aren't

kalian percaya kepada cinta?
Yeap, I was. Dulu aku selalu memuja cinta, menunggu datangnya dan menyesali kepergiannya, melihatnya disetiap tetesan embun yang jatuh, semilir angin, padang dan rerumputan menegaskan rasa cinta padaku. Cinta itu kuat, ia cepat, lebih dulu menemukan aku daripada aku menemukannya. Ia punya rasa, hati yg kering akan basah kembali oleh keringat usaha mendapatkannya. And she always watching on me, because she knows the time I fall in love, even when I sit in the darkest places. 
Aku kenal dia, looks beautiful for me, she kind, good looking, always makes my heart pumps blood and push the love pressure to the edge that I can stand. Mataku terasa melayang, mengikuti alunan rambutnya yg hitam panjang dan pirang dibawah sinar mentari, suaranya, seharum wanginya. Membuat cinta sekali lagi melihatku jatuh digenggamannya..
-o0o-
Aku cinta padamu, itulah yg selalu kukatakan padanya, disetiap desahnya, juga mengisyaratkan hal yg sama, namun pada akhirnya itu hanya sebuah isyarat. Kedekatanku padanya dikarenakan aku berhasil merebut hatinya disaat-saat perkenalanku dengan dunia luar, melihatnya pertama kali membuat terucap kata “you are an angel” yg mengalir lancar dari rongga tenggorokan, then she opened the door, let me to get in to her heart deeper, I felt like she wanted it too, but anyway I was a new guy around, I didn’t know any about girls. Day after day it grows stronger than before. I liked her, she liked me, I loved her, I didn’t know how. Cinta membuktikan ia cepat, semua terasa begitu singkat. Kata-katanya, sikapnya, tatapannya walaupun aku belum pernah sekalipun bertemu karena selalu ada dinding besar penghalang yg menggagalkanku setiap ada kesempatan menjadi lebih dekat. Tapi cinta tidak tahu mana yg benar atau salah, ia terlalu cepat bagiku, cepat datang, cepat pergi.
-o0o-
Aku, ingin lagi dekat dengannya, kembali menjalin temali yg putus oleh badai hati, atau putus tergigit cemburu, hilang dihembus angin pengkhianatan, atau malah ia yg melepaskannya, aku tak tahu. Yang aku tahu sekarang ia jauh, tidak lagi ada untukku, hilang dari dekapan, samar, ada tapi tak ada, hadir tapi tak berjejak, dia bilang iya tapi tak bersuara, seperti aku menjalin kasih dengan bayangan. Segenap cintaku retak dan terkikis, ketika seorang pangeran tampan membawa kuda perangnya maju ke garis depan medan tempur. Aku kalah, ia menang, kudanya lebih gagah, mulut manisnya berhasil mengalahkan hati sang ratu yg keras membeku, kembali mencair dan membuka lebar pintu hatinya untuk sang gagah berani. Selintas aku hanya tau apa yg lelaki itu katakan, ia memuji, mendeskripsikan inci demi inci tentang kesempurnaan duniawi juga hati sang puteri, JUST LIKE WHAT I DID TO HER, aku hanya mendengar, bisa melihat, tak mampu bergerak dari penjara cemburu yg sangat mengikat. Aku hancur, dadaku kosong karena hati ku meledak oleh rasa cemburu dan putus asa, karena aku tahu aku hanya terkurung disini, aku tak mampu berbuat lebih banyak bagi sang puteri, karena sebelum si gagah berani bertarung deminya, aku tak sempat mempunyai kuda yg gagah untuk ku bawa menjemput hati sang puteri.
-o0o-
Akhirnya, cinta kembali membuktikan keberadaanya. Cinta itu bersih, sekelebat aku tatap sang cinta yg sibuk membersihkan cintaku yg hancur tepat dibawh kakiku yg terikat kekecewaan. Tangisanku beku, hanya bisa kutundukkan kepala, berdoa dan bersumpah, aku takkan percaya lagi padanya. Cinta mendongakkan wajahnya, indah dan polos kini menitikkan air mata, seakan setiap tetesnya selalu berkata “aku ingin kau percaya pada cinta”, namun kepalaku dingin, tak lagi berpikir, kubuang mukaku jauh-jauh, seraya terisak, cinta menutup mukanya sambil berlari menghilang dari penjaraku, tinggalkan hatiku, kepalaku, tangan dan kakiku yg telah kecewa oleh sang puteri, aku tak tahu apakah ia sudah bersatu dengan si gagah, aku tak tahu, yg aku tahu aku sudah kalah. Aku kini hanya bisa menyesali sesuatu yg tidak pernah aku perbuat, menundukkan kepala semakin dalam, berteriak dalam bisu mengatakan “aku ingin percaya lagi pada cinta”, sementara berharap sang puteri membuka jeruji cemburuku, memelukku untuk mengatakan “aku cinta kamu, aku dan dia hanya teman”. Dibawah hujan, aku masih terikat, disini, menunggu detik-detik cinta datang kepadaku bersama sang puteri

-End-